Pabrik Industri tutup lagi, terakhir yg cukup saya perhatikan adalah tutupny pabrik ban sepeda Schwalbe yg cukup impact langsung ke saya karena saya pengguna ban Sepeda Schwalbe.
Pabrik ini tutup (2024) dan pindah ke vietnam karena masalah profit margin dan iklim bisnis, dimana pemerintah vietnam memberikan banyak stimulus utk investor luar negeri jadi pasar investasi vietnam sexy sekali.
Pabrik Schwalbe di Vietnam memiliki kira kira 3500pekerja dan 48.000kapasitas produksi ban tiap hari. Bayangkan berapa besar dampak ekonomi nya, kalau dari 3500pekerja tersebut 3000saja laki-laki kepala rumah tangga, punya istri dan 1 anak, berarti ada 9000manusia yg bisa di nafkahi dari industri tersebut.
Perkara pabrik ban ini melibatkan mata rantai besar, tutup nya pabrik ini bukan hanya impact di karyawan pabrik saja, ada dampak juga ke petani karet, usaha atau bisnik logistik, sekedar warteg atau tempat makan dan kos2an sekitar pabrik. Jadi jangan kira tutupnya pabrik ini kita cuma bicara sekian ribu karyawan terdampak, tapi ekonomi makro dan mikro yg terkait pabrik ini. Ini bukan masalah kecil.
Efek langsung ke saya adalah naiknya harga Ban Schwalbe yg cukup baik performa nya baik utk ban sepeda 16+ seperti brompton atau united trifold, juga ban MTB 27.5 dan 29, seperti magic marry dan teman-teman.
April 2026
https://vt.tiktok.com/ZS9HHbYp1/
Ada lagi pabrik tutup yaitu Krakatau Osaka Steel atau KOS, dgn jumlah karyawan langsung sekitar 200-500orang. Lokasi tentunya di cilegon dekat Krakatau steel.
Kenapa tutup? karena kalah saing dengan baja dan besi dari China.
Perusahaan KOS memproduksi baja tulangan, baja profil (siku), baja C (channel), dan flat bar. Mereka juga menjadi produsen pertama di Indonesia untuk baja tulangan berdiameter 50 mm (S50).
Pabrik KOS memiliki kapasitas produksi sebesar 500.000 ton per tahun.
Kalau trend seperti ini berlanjut maka lama kelamaan daya serap lulusan sekolah keahlian seperti SMK atau bahkan Sarjana akan menghilang, karena pabrik adalah sumber demand karyawan ahli, kalau pabrik pengolahan hilang sisa pekerjaan di Indonesia lama kelamaan hanya tenaga kasar saja, case utk KOS yg tadinya mengolah biji besi, dicairkan lalu di ubah jadi baja siku baja C, sekarang krn tutup yg kita jual cuma hasil bumi langsung atau raw material, ini kurang memberikan uang masuk, karena tidak ada add value.
Saya jelaskan secara sederhana, misalkan nasi goreng, yg tadinya jualan nasi goreng misalkan dgn modal 5000 bisa jual harga 15.000 krn ada pengolahan masak nya dulu. misalkan nasi gorenga ini tutup berarti kan sisa dagang raw nya saja, kita sederhanakan telur dan beras. Margin untung jualan telur dan beras kan nda bisa banyak2 makanya usaha raw material akan main di kuantiti atau jumlah. Sedangkan jual nasi goreng kita bisa margin. dari modal 5000 jadi 15000 tapi blom dikurangi sewa tempat, biaya gas, biaya perawatan alat alat. biaya cuci dan lain lain, tapi keliatan kan margin nya.
Jangan sampai nanti ketika sumber daya alam kita habis kita sudah tidak ada lagi nilai jual.
Compare dengan korea selatan, mereka tanpa ada sumberdaya alam yg kuat, semua raw material import tapi bisa apinya brand mendunia di elektronik atau automotive.
Ini maksud saya industri added value, oke dia keluar modal utk beli raw besi atau mineral, tapi mereka bisa olah dan misal dari modal 100 bisa jual barang harga 1000, 10x dari modal awal. Harusnya indonesia punya juga industri seperti ini.
PTDI dibungkam dan dikerdilkan padahal tenaga ahli lokal kita banyak, cuma pemerintah tidak pernah mendukung dan takut embargo US.
Dari 1944 s.d 2026 masa tidak punya brand motor atau mobil sendiri? Padahal skill otomotif orang indonesia luar biasa liat saja prestasi kita di ARRC balap motor asia, Indonesia ini teratas, jadi skill teknik kita diatas nya Malaysia atau Thailand dalam perkara pemahaman engine, sasis rangka dan elektronik.
Kok bisa bisanya kita nda punya merk motor atau mobil?
Komentar
Posting Komentar